Bismillah for everything, Selamat Datang di My Blog (Belajar, Berilmu, Beramal dan Beribadah. Semoga bermanfaat, Salam Ilmiah...

Sabtu, 24 Januari 2026

Berhentilah Menjadi Haters: Catatan Kritis untuk Nitizen yang Malas Berpikir


Bersama Bapak Emil Elestianto Dardak (Emil Dardak) Wakil Gubenur Jawa Timur


Di ruang digital hari ini, terlalu banyak suara yang ribut, tapi miskin nalar. Komentar nitizen terhadap artis dan publik figur sering kali tidak lahir dari analisis, melainkan dari emosi mentah, iri tersembunyi, dan kebodohan yang dipelihara. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan dalih “pendapat pribadi”.


Perlu dipahami satu hal mendasar: tidak semua opini layak disuarakan, apalagi jika dibangun dari prasangka, potongan informasi, dan imajinasi liar. Mengomentari hidup publik figur tanpa data, tanpa empati, dan tanpa etika bukanlah keberanian itu kemalasan intelektual.

Fenomena hating menunjukkan bahwa sebagian nitizen lebih menikmati sensasi menjatuhkan daripada usaha memahami. Mereka merasa berkuasa saat menghina, merasa pintar saat menyindir, dan merasa bermoral saat menghakimi. Padahal yang terlihat justru ketelanjangan logika dan krisis literasi.

Lebih parah lagi, kebencian sering disamarkan sebagai kritik. Kritik sejati bertujuan membangun, disertai argumen dan solusi. Hating hanya menghasilkan luka, polusi pikiran, dan memperpanjang rantai kebodohan kolektif. Jika komentar Anda hanya berisi hujatan, jangan sebut itu kritik - itu cermin kualitas diri.

Sudah saatnya berhenti menjadikan artis dan publik figur sebagai sasaran pelampiasan frustrasi hidup. Mereka boleh terkenal, tapi tetap manusia: bisa salah, bisa lelah, dan berhak dihormati. Tidak ada prestasi dalam merendahkan orang lain, dan tidak ada kecerdasan dalam ikut-ikutan membenci.

Jika hidup Anda terasa berat, solusi terbaik bukan menebar kebencian, melainkan memperbaiki diri, menambah literasi, dan memperluas empati. Dunia digital tidak membutuhkan lebih banyak haters; yang dibutuhkan adalah manusia dewasa yang mampu berpikir sebelum berbicara.

Jadi, sebelum mengetik komentar penuh amarah, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ini kritik yang mencerdaskan, atau sekadar kebodohan yang sedang dipamerkan?

Berhentilah jadi haters. Naik kelaslah sebagai manusia. /nh

Selasa, 02 September 2025

PENJARAHAN BERKEDOK DEMO: ANCAMAN BARU DEMOKRASI INDONESIA


Sumenep Indonesia kembali diguncang fenomena mengejutkan: penjarahan berkedok demo. Aksi yang sejatinya dimaksudkan untuk menyuarakan aspirasi rakyat kini berubah menjadi ladang kekacauan yang melukai wajah demokrasi. Sejumlah kota besar dilaporkan lumpuh akibat ulah segelintir oknum yang memanfaatkan momen demonstrasi untuk melakukan penjarahan massal.

Di berbagai rekaman video yang viral di media sosial, terlihat jelas massa bukan hanya menyuarakan protes, melainkan juga membobol toko, merampas barang dagangan, bahkan menyerang warga sipil. Fenomena ini membuat publik bertanya: Apakah masih pantas disebut demo, jika nyawa dan harta masyarakat dikorbankan?

Rakyat Ketakutan, Pedagang Menjerit

Ratusan pedagang kecil merugi. Minimarket hingga warung rakyat jadi sasaran empuk. “Kami pedagang kecil, barang dagangan hasil utang, semua habis dijarah. Kalau demo, silakan, tapi jangan merusak kami,” ungkap Siti Aminah, seorang pedagang kelontong yang tokonya dirusak massa.

Bukan hanya pedagang, warga pun kini merasa trauma setiap mendengar kata “demo”. Mereka khawatir bukan lagi sekadar orasi di jalan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan.

Demo atau Anarki?

Pengamat sosial politik menilai fenomena ini berbahaya karena dapat mengaburkan makna demonstrasi. Demo yang seharusnya menjadi simbol kebebasan berpendapat kini dipelintir menjadi kedok kriminalitas. “Ada pihak-pihak yang sengaja menunggangi, memprovokasi, dan mengacaukan. Korban terbesarnya tetap rakyat,” ujar Dr. Andika Prasetya, analis politik Universitas Nasional.

Jika dibiarkan, bukan mustahil masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada mekanisme demokrasi. Akibatnya, demonstrasi bisa dianggap bukan lagi suara rakyat, melainkan skenario chaos.

Polisi Didesak Bertindak Tegas

Kepolisian kini berada di bawah sorotan tajam. Publik mendesak aparat menindak tegas pelaku penjarahan, bukan sekadar mengawal jalannya aksi. “Kami tidak anti-demo, tapi kami anti-penjarahan. Negara tidak boleh kalah dari maling yang berkedok aspirasi,” tegas seorang warga Jakarta yang ikut menjaga lingkungannya dari amukan massa.

Indonesia dalam Bahaya Normalisasi Kekacauan

Jika praktik ini terus berulang, Indonesia terancam memasuki era berbahaya: normalisasi kekacauan. Demonstrasi bisa menjadi alasan legal untuk menjarah, merusak, bahkan mengacaukan stabilitas bangsa.

Pertanyaan besar kini menggema: Apakah kita rela demokrasi dilecehkan dengan topeng penjarahan? Ataukah saatnya bangsa ini membedakan antara hak menyuarakan pendapat dengan kejahatan murni? (/nh)

Jumat, 18 April 2025

MENULIS: WARISAN GAGASAN YANG TAK PERNAH MATI


Nurul Huda, BBA., S.E., M.M
Email: nurul.huda.macintosh@gmail.com

 

Menulis bukan sekadar menyusun kata. Ia adalah proses abadi untuk merawat ingatan, menyalakan peradaban, dan menanam benih inspirasi di ladang waktu. Sebuah tulisan, meski sederhana, mampu melampaui batas usia penulisnya. Ia tetap hidup, berbicara, bahkan memprovokasi pikiran-pikiran baru bahkan saat tangan yang menulisnya telah lama membatu.

Dalam sejarah, setiap kemajuan lahir dari ide. Dan setiap ide besar, pada akhirnya ditulis diabadikan dalam tinta, dalam naskah, dalam layar. Tanpa tulisan, dunia tak akan mengenal Plato, tak akan mengenal Ibnu Khaldun, Hatta, Kartini, atau bahkan sosok-sosok lokal yang membakar semangat melalui lembar-lembar yang mereka tinggalkan.
Menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan spiritual. Di balik tiap paragraf, tersembunyi harapan: agar generasi berikutnya tidak mengulang kebodohan yang sama, agar mereka melangkah lebih jauh dengan bekal pemikiran kita. Setiap kata yang ditulis dengan hati, bisa menjadi lentera bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari arah.
Di era serba cepat ini, banyak yang tergoda untuk hanya menjadi penikmat informasi, bukan pencipta. Padahal, generasi yang hanya membaca tanpa pernah menulis, adalah generasi yang kehilangan suara. Menulislah karena lewat tulisan, kau bisa mengajarkan tanpa hadir, menasihati tanpa menggurui, dan menginspirasi tanpa harus bersuara.
Ingatlah, satu buku kecil yang kau tulis hari ini, bisa menjadi cahaya besar di masa depan. Maka jangan biarkan pikiranmu hanya hidup di kepalamu. Biarkan ia mengalir lewat tulisan, menjelma menjadi warisan tak ternilai. Karena sejatinya, menulis adalah cara paling elegan untuk hidup selamanya di benak dan jiwa mereka yang belum lahir.

Karya Terbaru:

PREDIKSI EKONOMI INDONESIA 2045

DAFTAR ARTIKEL

BELAJAR, BERILMU, BERAMAL & BERIBADAH "Integritasmu Adalah Masa Depanmu" Oleh: Nurul Huda, BBA., S.E., M.M E-mail : nurul.hud...