![]() |
| Dr. (Cand) Nurul Huda, BBA., S.E., M.M Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam - Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep |
Refleksi Teologis dan Filosofis tentang Hakikat Kekuatan Manusia dalam Perspektif Islam
Manusia sering kali memahami kekuatan berdasarkan sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dan diukur. Batu dianggap kuat karena kekokohannya, besi karena ketahanannya, api karena daya hancurnya, air karena kemampuannya memadamkan api, dan angin karena kekuatannya menggerakkan berbagai benda. Namun, jika direnungkan lebih dalam, apakah kekuatan yang tampak secara fisik merupakan bentuk kekuatan tertinggi? Apakah sesuatu yang keras selalu lebih kuat daripada sesuatu yang lembut? Dan apakah manusia yang mampu menguasai banyak hal di dunia sudah dapat dikatakan sebagai manusia yang benar-benar kuat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada sebuah refleksi spiritual tentang hakikat kekuatan yang sesungguhnya, yaitu kekuatan hati yang dilandasi keimanan dan keikhlasan kepada Allah SWT.
Dalam sebuah kisah hikmah yang berkembang di tengah masyarakat, diceritakan bahwa ketika Allah SWT menciptakan bumi, keadaan bumi digambarkan berguncang hebat dan tidak beraturan. Kemudian Allah menciptakan gunung-gunung yang ditancapkan ke bumi sebagai pasak. Gambaran ini mengingatkan kita pada firman Allah dalam QS. An-Naba' ayat 6–7: "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?" Ayat tersebut menunjukkan salah satu tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan alam semesta. Dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan gunung sebagai pasak yang ditancapkan pada bumi. Penjelasan serupa juga ditemukan dalam Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān karya Imam Ath-Thabari. Gunung dalam konteks ini menjadi gambaran kekokohan dan keteraturan ciptaan Allah. Tentu, penafsiran tersebut tidak berarti bahwa gunung menghentikan rotasi bumi atau mengatur kecepatan perputarannya.
Kisah hikmah tersebut kemudian menggambarkan dialog antara para malaikat dan Allah SWT mengenai tingkatan kekuatan berbagai makhluk. Para malaikat bertanya, adakah sesuatu yang lebih kuat daripada gunung? Allah menjawab bahwa ada, yaitu besi. Besi mampu menghancurkan batu yang begitu kokoh. Namun, besi pun memiliki kelemahan karena dapat dilebur oleh api. Ketika para malaikat bertanya kembali tentang sesuatu yang lebih kuat daripada api, Allah menjawab bahwa ada, yaitu air, karena air mampu memadamkan api yang membara. Akan tetapi, air pun dapat digerakkan oleh angin. Dari rangkaian perumpamaan tersebut, kita mendapatkan pelajaran filosofis bahwa setiap kekuatan memiliki batasnya masing-masing. Sesuatu yang hari ini terlihat kokoh belum tentu tidak dapat dihancurkan esok hari. Sesuatu yang dianggap paling kuat ternyata masih memiliki kelemahan. Inilah pesan penting bahwa manusia tidak sepatutnya menyombongkan kelebihan yang dimilikinya, sebab tidak ada kekuatan yang mutlak selain kekuatan Allah SWT. Perlu ditegaskan bahwa rangkaian dialog tersebut merupakan kisah hikmah, bukan riwayat hadis sahih yang dapat dipastikan berasal dari Allah dan para malaikat.
Pada bagian akhir kisah tersebut, muncul sebuah pemikiran yang sangat menarik, yaitu tentang manusia yang memiliki hati ikhlas. Manusia yang ikhlas digambarkan memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan material, bukan karena ia lebih kuat secara fisik daripada batu, besi, api, air, atau angin, melainkan karena ia memiliki kemampuan mengendalikan dirinya sendiri. Ia mampu menghadapi pujian tanpa menjadi sombong, menerima hinaan tanpa kehilangan harga diri, menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan, dan melakukan kebaikan tanpa harus menunggu penghargaan dari orang lain. Di sinilah letak kekuatan yang sesungguhnya. Sebab, mengalahkan orang lain mungkin membutuhkan tenaga, tetapi mengalahkan kesombongan dalam diri sendiri membutuhkan kesadaran, kedewasaan, kesabaran, dan keikhlasan yang mendalam.
Dalam perspektif Islam, keikhlasan bukan sekadar sikap menerima keadaan atau tidak mengeluh terhadap kehidupan. Keikhlasan merupakan prinsip mendasar dalam beribadah dan menjalankan seluruh kebaikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5, yang artinya: "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." Ayat ini memberikan penegasan bahwa pengabdian manusia kepada Allah harus dibangun di atas ketulusan hati. Seseorang tidak seharusnya menjadikan pujian, popularitas, kedudukan, atau pengakuan manusia sebagai tujuan utama dalam beramal. Hal ini juga diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dalam Shahih al-Bukhari nomor 1: "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya." Hadis tersebut menunjukkan bahwa nilai suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari bentuk lahiriahnya, tetapi juga dari niat yang mendasarinya. Dua orang mungkin melakukan pekerjaan yang sama, tetapi memiliki nilai spiritual yang berbeda karena tujuan dan ketulusan hati yang berbeda.
Pemikiran tersebut sejalan dengan pandangan Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, khususnya pembahasan Kitāb al-Niyyah wa al-Ikhlāṣ wa al-Ṣidq mengenai niat, keikhlasan, dan kejujuran. Al-Ghazali memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara amal lahiriah dan kondisi batin manusia. Amal yang tampak besar belum tentu memiliki nilai yang besar apabila dilakukan semata-mata untuk memperoleh pujian dan kedudukan. Sebaliknya, amal yang tampak sederhana dapat memiliki nilai yang tinggi apabila dilakukan dengan niat yang benar dan ketulusan hati. Dalam perspektif penyucian jiwa, manusia tidak hanya dituntut memperbaiki perilaku yang terlihat, tetapi juga membersihkan penyakit hati seperti kesombongan, riya, iri hati, dan kecintaan berlebihan terhadap kedudukan. Dengan demikian, perjuangan terbesar manusia sesungguhnya bukan hanya menghadapi tantangan dari luar dirinya, melainkan juga menghadapi berbagai kelemahan yang bersemayam dalam dirinya sendiri.
Rasulullah SAW juga memberikan gambaran tentang keikhlasan melalui hadis mengenai tujuh golongan manusia yang memperoleh naungan Allah pada hari kiamat. Salah satunya adalah seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 1423 dan Imam Muslim nomor 1031. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung, tepuk tangan, atau pengakuan manusia. Ada kebaikan yang justru menjadi sangat bermakna ketika hanya Allah dan pelakunya yang mengetahui. Namun, bukan berarti seluruh kebaikan harus disembunyikan, sebab memperlihatkan amal dengan niat memberikan teladan juga dapat menjadi sesuatu yang baik. Hal terpenting adalah menjaga hati agar tidak terjebak dalam keinginan untuk dipuji dan dihormati.
Jika dikaitkan dengan kehidupan modern, keikhlasan menjadi semakin penting karena manusia hidup dalam lingkungan yang sering kali mengukur keberhasilan berdasarkan popularitas, kekayaan, jabatan, jumlah pengikut, dan pengakuan sosial. Media sosial, misalnya, membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Ada yang merasa bahagia ketika mendapatkan banyak pujian, tetapi kecewa ketika tidak mendapatkan perhatian. Ada yang melakukan kebaikan karena ingin dilihat, bukan semata-mata karena ingin memberikan manfaat. Ada pula yang kehilangan semangat ketika pengorbanannya tidak dihargai. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar manusia bukan hanya persaingan ekonomi dan sosial, melainkan juga bagaimana menjaga kemurnian niat di tengah kehidupan yang semakin berorientasi pada pengakuan. Padahal, seseorang yang benar-benar ikhlas akan tetap menjalankan tanggung jawabnya meskipun tidak selalu mendapatkan apresiasi. Seorang pendidik tetap mengajar dengan sungguh-sungguh meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan. Seorang peneliti tetap mencari kebenaran meskipun hasil kerjanya tidak selalu dikenal. Seorang pemimpin tetap mengabdi meskipun tidak selalu mendapatkan pujian. Dan seseorang tetap membantu sesama meskipun kebaikannya tidak selalu dibalas dengan kebaikan.
Namun, keikhlasan tidak berarti manusia harus membiarkan ketidakadilan, menerima perlakuan buruk tanpa batas, atau berhenti memperjuangkan haknya. Orang yang ikhlas tetap boleh berusaha, memperbaiki keadaan, menegakkan kebenaran, dan melawan ketidakadilan. Perbedaannya terletak pada orientasi hati. Ia tidak menjadikan kebencian sebagai pengendali hidupnya, tidak menjadikan dendam sebagai tujuan perjuangannya, dan tidak menjadikan pujian sebagai ukuran keberhasilannya. Ia memahami bahwa manusia hanya dapat berusaha dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT. Oleh karena itu, keikhlasan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan spiritual yang memungkinkan manusia tetap teguh tanpa kehilangan ketenangan batinnya.
Pada akhirnya, filosofi batu, besi, api, air, dan angin mengajarkan bahwa segala sesuatu yang memiliki kekuatan material tetap mempunyai keterbatasan. Batu dapat dihancurkan, besi dapat dilebur, api dapat dipadamkan, air dapat digerakkan, dan angin dapat berubah arah. Semua itu mengingatkan manusia bahwa tidak ada alasan untuk menyombongkan diri atas kekuatan, kekayaan, jabatan, maupun kedudukan yang dimilikinya. Dalam pandangan Islam, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh seberapa besar kekuasaannya, tetapi oleh keimanan, ketakwaan, akhlak, dan ketulusan amalnya. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang paling bertakwa. Maka, kekuatan terbesar bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengalahkan kesombongan, mengendalikan hawa nafsu, menjaga kesabaran, serta mempertahankan keikhlasan dalam setiap keadaan. Manusia boleh kehilangan pujian, jabatan, kekayaan, bahkan popularitas, tetapi jangan sampai kehilangan ketulusan dalam beribadah dan berbuat baik. Sebab, batu mungkin kuat, besi mungkin kokoh, api mungkin membara, air mungkin luas, dan angin mungkin dahsyat, tetapi manusia yang mampu menjaga hatinya tetap ikhlas memiliki kekuatan spiritual untuk terus berjalan di jalan kebaikan. Kekuatan sejati bukanlah ketika kita mampu menguasai dunia, melainkan ketika kita mampu menguasai diri sendiri dan tetap tulus mengabdi kepada Allah SWT, meskipun dunia tidak pernah memberikan pengakuan.
Referensi utama: Al-Qur'an, QS. An-Naba' [78]: 6–7, QS. An-Nahl [16]: 15, QS. Al-Bayyinah [98]: 5, dan QS. Al-Hujurat [49]: 13; Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis nomor 1 dan 1423; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis nomor 1031; Abu Al-Fida' Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, tafsir QS. An-Naba' ayat 7; Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān, tafsir QS. An-Naba' ayat 7; Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, Kitāb al-Niyyah wa al-Ikhlāṣ wa al-Ṣidq; dan Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam.


