Bismillah for everything, Selamat Datang di My Blog (Belajar, Berilmu, Beramal dan Beribadah. Semoga bermanfaat, Salam Ilmiah...

Jumat, 29 November 2024

PILKADA: JANGAN MERASA BANGGA KETIKA MENANG DENGAN CARA CURANG

 

Oleh: Nurul Huda, BBA., S.E., M.M

E-mail: nurul.huda.macintosh@gmail.com

 

Pendahuluan
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah fondasi demokrasi di Indonesia, di mana suara rakyat menjadi penentu masa depan kepemimpinan suatu daerah. Namun, dalam praktiknya, Pilkada sering kali tercoreng oleh berbagai bentuk kecurangan, mulai dari politik uang, manipulasi suara, hingga intimidasi. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin seseorang merasa bangga dengan kemenangan yang diraih melalui cara yang tidak bermoral dan melanggar prinsip demokrasi? Artikel ini membahas urgensi integritas dalam Pilkada, dampak buruk dari kecurangan, serta langkah-langkah strategis untuk menciptakan Pilkada yang adil dan bermartabat.

Demokrasi dan Nilai-Nilai Keadilan
Demokrasi bukan sekadar mekanisme pemilihan pemimpin, tetapi juga sebuah sistem yang menjunjung tinggi keadilan, transparansi, dan akuntabilitas (Dahl, 2022). Ketika kecurangan dilakukan, nilai-nilai ini hancur, menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi. Kemenangan melalui cara curang hanya menciptakan kepemimpinan yang rapuh dan kehilangan legitimasi moral di mata rakyat.

Dalam konteks Pilkada, integritas adalah harga mati. Pemimpin yang terpilih haruslah mencerminkan aspirasi rakyat secara murni, bukan hasil manipulasi yang merugikan banyak pihak. Kecurangan tidak hanya menghancurkan keadilan, tetapi juga melanggengkan budaya politik yang korup dan tidak etis (Fukuyama, 2023).

Dampak Kecurangan terhadap Masyarakat

  1. Hilangnya Kepercayaan Publik
    Ketika masyarakat menyadari adanya kecurangan dalam Pilkada, mereka cenderung kehilangan kepercayaan terhadap sistem politik. Hal ini berdampak buruk pada partisipasi politik di masa depan, di mana masyarakat mungkin merasa apatis atau tidak lagi percaya bahwa suara mereka berarti.
  2. Kepemimpinan yang Tidak Kompeten
    Pemimpin yang terpilih melalui kecurangan sering kali tidak memiliki kompetensi atau integritas yang dibutuhkan untuk memimpin. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan tidak pro-rakyat, melainkan hanya menguntungkan kelompok tertentu.
  3. Merosotnya Moralitas Politik
    Budaya kecurangan yang terus dibiarkan akan menular kepada generasi berikutnya, menciptakan lingkaran setan korupsi dan manipulasi dalam politik. Ini bertentangan dengan cita-cita demokrasi yang seharusnya menjadi ruang untuk melahirkan pemimpin berkualitas.

Mengapa Kemenangan Curang Tidak Patut Dibanggakan?

Kemenangan sejati bukan hanya soal angka atau jabatan, melainkan legitimasi moral dan kepercayaan dari rakyat. Ketika kemenangan diperoleh dengan cara curang, hal itu mencerminkan kelemahan karakter dan kurangnya integritas dari pihak yang bersangkutan.

Bangga atas kemenangan curang ibarat membangun rumah di atas fondasi yang rapuh. Cepat atau lambat, kebohongan akan terungkap, dan pemimpin tersebut akan kehilangan dukungan rakyat. Lebih dari itu, mereka juga kehilangan harga diri sebagai pemimpin yang seharusnya menjadi teladan (Zakaria, 2023).

Strategi Membangun Pilkada yang Bermartabat

  1. Peningkatan Literasi Politik
    Pendidikan politik kepada masyarakat harus digencarkan agar mereka memahami pentingnya memilih pemimpin berdasarkan kualitas, bukan karena politik uang.
  2. Penegakan Hukum yang Tegas
    Lembaga pengawas Pilkada harus diberdayakan untuk menindak tegas pelaku kecurangan. Hukuman yang setimpal akan memberikan efek jera kepada mereka yang berniat mencurangi sistem.
  3. Partisipasi Aktif Masyarakat
    Masyarakat harus aktif dalam mengawasi proses Pilkada, mulai dari kampanye hingga perhitungan suara. Partisipasi aktif ini akan meminimalkan peluang kecurangan.
  4. Pemanfaatan Teknologi
    Teknologi dapat menjadi alat untuk menciptakan transparansi dalam Pilkada, seperti e-voting atau sistem pemantauan berbasis digital yang sulit dimanipulasi.

Kesimpulan
Pilkada seharusnya menjadi ajang untuk memilih pemimpin terbaik, bukan kompetisi untuk melihat siapa yang paling lihai dalam mencurangi sistem. Kemenangan yang diperoleh melalui cara curang bukanlah kemenangan yang layak dibanggakan, melainkan noda dalam sejarah demokrasi. Untuk menciptakan masa depan politik yang lebih baik, semua pihak baik penyelenggara, peserta, maupun masyarakat harus bersama-sama menegakkan integritas dan keadilan dalam setiap proses Pilkada. Semoga artikel singkat ini bermanfaat. Salam ilmiah! (NH)

Referensi:

  • Dahl, R. A. (2022). On Democracy. Yale University Press.
  • Fukuyama, F. (2023). Political Order and Political Decay. Farrar, Straus and Giroux.
  • Zakaria, F. (2023). The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad. W.W. Norton & Company.
  • Komisi Pemilihan Umum (KPU). (2024). Panduan Pelaksanaan Pilkada Serentak. Jakarta: KPU.
  • Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). (2023). Laporan Penanganan Kasus Kecurangan Pilkada. Jakarta: Bawaslu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAFTAR ARTIKEL

BELAJAR, BERILMU, BERAMAL & BERIBADAH "Integritasmu Adalah Masa Depanmu" Oleh: Nurul Huda, BBA., S.E., M.M E-mail : nurul.hud...