![]() |
| Document | Bappeda Kab. Sumenep |
Oleh: Nurul Huda, BBA., S.E., M.M
Email: nurul.huda.macintosh@gmail.com
Di era yang serba cepat ini, mahasiswa Gen Z tumbuh dalam dunia yang penuh peluang sekaligus tekanan. Mereka adalah generasi yang akrab dengan teknologi sejak dini, terbiasa mengakses informasi dalam hitungan detik, dan memiliki wawasan yang luas bahkan sejak usia muda. Di balik kecerdasan dan kemudahan akses tersebut, tersimpan satu realitas yang jarang dibicarakan secara jujur: kelelahan mental yang datang perlahan, namun pasti.
Mahasiswa Gen Z dikenal sebagai generasi yang ambisius. Mereka memiliki banyak mimpi, target, dan rencana besar untuk masa depan. Tidak sedikit dari mereka yang ingin sukses di usia muda, memiliki karier yang mapan, bahkan membangun bisnis sendiri sebelum lulus kuliah. Ambisi ini sering kali dipicu oleh paparan media sosial yang menampilkan berbagai kisah sukses anak muda: ada yang sudah memiliki perusahaan sendiri di usia 20-an, ada yang menjadi influencer dengan penghasilan fantastis, dan ada pula yang berhasil kuliah di luar negeri dengan berbagai prestasi gemilang.
Namun, di balik semangat itu, muncul satu fenomena yang diam-diam menggerogoti: overthinking. Pikiran yang terlalu aktif, terus-menerus memikirkan masa depan, membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa tertinggal. Mahasiswa Gen Z sering kali tidak hanya berpikir tentang “apa yang harus dilakukan hari ini”, tetapi juga “bagaimana jika aku gagal?”, “apakah aku sudah cukup baik?”, dan “mengapa orang lain terlihat lebih sukses dariku?”.
Perpaduan antara ambisi besar dan overthinking inilah yang kemudian menciptakan tekanan yang unik. Di satu sisi, mereka ingin bergerak cepat dan mencapai banyak hal. Di sisi lain, mereka justru terjebak dalam keraguan yang menghambat langkah mereka sendiri. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang terlihat sibuk, tetapi sebenarnya tidak benar-benar bergerak maju. Mereka menghabiskan waktu untuk merencanakan, memikirkan, dan mengkhawatirkan, namun kesulitan untuk benar-benar memulai.
Kelelahan yang dialami mahasiswa Gen Z bukan hanya kelelahan fisik, tetapi lebih kepada kelelahan mental. Mereka lelah karena terlalu banyak berpikir, terlalu sering membandingkan diri, dan terlalu keras menuntut diri sendiri. Ironisnya, kelelahan ini sering tidak terlihat oleh orang lain. Di luar, mereka tetap terlihat aktif, mengikuti perkuliahan, organisasi, bahkan kegiatan sosial. Namun di dalam, mereka merasa kosong, bingung, dan kehilangan arah.
Fenomena ini semakin diperparah oleh budaya “harus produktif” yang berkembang di kalangan anak muda. Istilah seperti “jangan rebahan”, “manfaatkan waktumu”, dan “orang sukses tidak santai” sering kali menjadi tekanan tersendiri. Padahal, tidak semua waktu harus diisi dengan produktivitas. Ada saatnya manusia perlu berhenti sejenak, bernapas, dan memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk beristirahat.
Mahasiswa Gen Z juga hidup dalam era validasi digital. Nilai diri sering kali diukur dari jumlah “like”, “view”, atau “followers”. Tanpa disadari, hal ini menciptakan standar baru tentang kesuksesan dan kebahagiaan. Ketika melihat orang lain tampak bahagia dan berhasil di media sosial, mereka mulai mempertanyakan diri sendiri. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari realitas.
Dalam kondisi seperti ini, penting bagi mahasiswa untuk mulai memahami dirinya sendiri. Bahwa tidak semua orang memiliki jalan yang sama. Bahwa setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing. Kesuksesan bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin, melainkan perjalanan yang harus dijalani dengan kesadaran dan keseimbangan.
Ambisi bukanlah sesuatu yang salah. Justru ambisi adalah bahan bakar yang mendorong seseorang untuk terus berkembang. Namun, ambisi yang tidak diimbangi dengan pengelolaan pikiran yang baik dapat berubah menjadi beban. Di sinilah pentingnya mengelola overthinking. Bukan berarti kita harus berhenti berpikir, tetapi belajar untuk berpikir secara proporsional. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan, dan melepaskan hal-hal yang berada di luar kendali.
Mahasiswa juga perlu belajar untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan. Tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana. Tidak semua target harus tercapai dalam waktu singkat. Kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Dengan menerima kenyataan ini, beban mental akan terasa lebih ringan.
Selain itu, penting untuk membangun kebiasaan yang sehat, baik secara fisik maupun mental. Istirahat yang cukup, mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan sosial, serta meluangkan waktu untuk refleksi diri adalah langkah sederhana namun berdampak besar. Terkadang, solusi dari kelelahan bukanlah bekerja lebih keras, tetapi berhenti sejenak dan mengatur ulang arah.
Dukungan sosial juga memiliki peran penting. Berbagi cerita dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi beban pikiran. Mahasiswa tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada banyak orang yang mengalami hal serupa, dan saling mendukung dapat menjadi kekuatan yang luar biasa.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa Gen Z di era ini memang tidak mudah. Mereka hidup di tengah tuntutan yang tinggi, ekspektasi yang besar, dan perubahan yang cepat. Namun, di balik semua itu, mereka juga memiliki potensi yang luar biasa. Mereka adalah generasi yang kreatif, adaptif, dan penuh semangat.
Kunci utamanya adalah keseimbangan. Menyeimbangkan antara ambisi dan ketenangan, antara usaha dan istirahat, antara mimpi dan realitas. Ketika keseimbangan ini dapat dijaga, maka ambisi tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi energi yang menggerakkan.
Jadi, jika hari ini kamu merasa lelah, ingatlah bahwa itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah tanda bahwa kamu sedang berusaha. Tidak apa-apa untuk berjalan lebih lambat, selama kamu tidak berhenti. Tidak apa-apa untuk beristirahat, selama kamu tidak menyerah.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang siapa yang mampu bertahan dan menikmati setiap prosesnya. (/NH)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar