Bersama Bapak Emil Elestianto Dardak (Emil Dardak) Wakil Gubenur Jawa Timur
Di ruang digital hari ini, terlalu banyak suara yang ribut, tapi miskin nalar. Komentar nitizen terhadap artis dan publik figur sering kali tidak lahir dari analisis, melainkan dari emosi mentah, iri tersembunyi, dan kebodohan yang dipelihara. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan dalih “pendapat pribadi”.
Perlu dipahami satu hal mendasar: tidak semua opini layak disuarakan, apalagi jika dibangun dari prasangka, potongan informasi, dan imajinasi liar. Mengomentari hidup publik figur tanpa data, tanpa empati, dan tanpa etika bukanlah keberanian itu kemalasan intelektual.
Fenomena hating menunjukkan bahwa sebagian nitizen lebih menikmati sensasi menjatuhkan daripada usaha memahami. Mereka merasa berkuasa saat menghina, merasa pintar saat menyindir, dan merasa bermoral saat menghakimi. Padahal yang terlihat justru ketelanjangan logika dan krisis literasi.
Lebih parah lagi, kebencian sering disamarkan sebagai kritik. Kritik sejati bertujuan membangun, disertai argumen dan solusi. Hating hanya menghasilkan luka, polusi pikiran, dan memperpanjang rantai kebodohan kolektif. Jika komentar Anda hanya berisi hujatan, jangan sebut itu kritik - itu cermin kualitas diri.
Sudah saatnya berhenti menjadikan artis dan publik figur sebagai sasaran pelampiasan frustrasi hidup. Mereka boleh terkenal, tapi tetap manusia: bisa salah, bisa lelah, dan berhak dihormati. Tidak ada prestasi dalam merendahkan orang lain, dan tidak ada kecerdasan dalam ikut-ikutan membenci.
Jika hidup Anda terasa berat, solusi terbaik bukan menebar kebencian, melainkan memperbaiki diri, menambah literasi, dan memperluas empati. Dunia digital tidak membutuhkan lebih banyak haters; yang dibutuhkan adalah manusia dewasa yang mampu berpikir sebelum berbicara.
Jadi, sebelum mengetik komentar penuh amarah, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ini kritik yang mencerdaskan, atau sekadar kebodohan yang sedang dipamerkan?
Berhentilah jadi haters. Naik kelaslah sebagai manusia. /nh
.jpg)